A.
Pengertian Teori Pemrosesan Informasi
Teori pemrosesan informasi adalah
teori kognitif tentang belajar yang menjelaskan pemrosesan, penyimpanan, dan
pemanggilan kembali pengetahuan dari otak (Slavin, 2000). Teori ini menjelaskan
bagaimana seseorang memperoleh sejumlah informasi dan dapat diingat dalam waktu
yang cukup lama. Oleh karena itu perlu menerapkan suatu strategi belajar
tertentu yang dapat memudahkan semua informasi diproses di dalam otak melalui
beberapa indera.
Komponen pertama dari sistem memori
yang dijumpai oleh informasi yang masuk adalah registrasi penginderaan.
Registrasi penginderaan menerima sejumlah besar informasi dari indera dan
menyimpannya dalam waktu yang sangat singkat, tidak lebih dari dua detik. Bila
tidak terjadi suatu proses terhadap informasi yang disimpan dalam register
penginderaan, maka dengan cepat informasi itu akan hilang.
Keberadaan register penginderaan
mempunyai dua implikasi penting dalam pendidikan. Pertama, orang harus menaruh
perhatian pada suatu informasi bila informasi itu harus diingat. Kedua,
seseorang memerlukan waktu untuk membawa semua informasi yang dilihat dalam
waktu singkat masuk ke dalam kesadaran, (Slavin, 2000: 176).
Interpretasi seseorang terhadap
rangsangan dikatakan sebagai persepsi. Persepsi dari stimulus tidak langsung
seperti penerimaan stimulus, karena persepsi dipengaruhi status mental,
pengalaman masa lalu, pengetahuan, motivasi, dan banyak faktor lain.
Informasi yang dipersepsi seseorang
dan mendapat perhatian, akan ditransfer ke komponen kedua dari sistem memori,
yaitu memori jangka pendek. Memori jangka pendek adalah sistem penyimpanan
informasi dalam jumlah terbatas hanya dalam beberapa detik. Satu cara untuk
menyimpan informasi dalam memori jangka pendek adalah memikirkan tentang informasi
itu atau mengungkapkannya berkali-kali. Guru mengalokasikan waktu untuk
pengulangan selama mengajar.
Memori jangka panjang merupakan
bagian dari sistem memori tempat menyimpan informasi untuk periode panjang.
Tulving (1993) dalam (Slavin, 2000: 181) membagi memori jangka panjang menjadi
tiga bagian, yaitu memori episodik, yaitu bagian memori jangka panjang yang
menyimpan gambaran dari pengalaman-pangalaman pribadi kita, memori semantik,
yaitu suatu bagian dari memori jangka panjang yang menyimpan fakta dan
pengetahuan umum, dan memori prosedural adalah memori yang menyimpan informasi
tentang bagaimana melakukan sesuatu.
Komponen pemrosesan dipilih menjadi
tiga berdasarkan perbedaan fungsi, kapasitas, bentuk informasi, serta proses
terjadinya”lupa”. Ketiga komponen tersebut adalah:
1.
Sensory
receptor
Sensory Receptor (SR) merupakan sel tempat pertama kali informasi
diterima dari luar. informasi masuk ke sistem
melalui sensory register Di dalam SR informasi ditangkap dalam bentuk
aslinya, informasi hanya dapat bertahan dalam waktu yang sangat singkat, dan
informasi tadi mudah terganggu dengan kata lain sangat mudah berganti. Agar tetap
berada dalam sistem, informasi masuk ke
working memory yang digabungkan dengan informasi di long-term
memory.
2.
Working
memory
Pengerjaan
atau operasi informasi berlangsung di working memory. Disini, berlangsung
proses berpikir secara sadar. Working
Memory (WM) diasumsikan mampu menangkap informasi yang diberi
perhatian (attention) oleh individu. Pemberian perhatian ini dipengaruhi oleh
peran persepsi. Karakteristik WM adalah bahwa;
1) Ia memiliki kapasitas yang
terbatas, lebih kurang 7 slots. Informasi di dalamnya hanya mampu bertahan
kurang lebih 15 detik apabila tanpa upaya pengulangan atau rehearsal.
2) Informasi dapat disandi dalam
bentuk yang berbeda dari stimulus aslinya.
3.
Long term
memory
Long Term
Memory (LTM) diasumsikan; 1) berisi semua pengetahuan yang telah dimiliki oleh
individu, 2) mempunyai kapasitas tidak terbatas, dan 3) bahwa sekali informasi
disimpan di dalam LTM ia tidak akan pernah terhapus atau hilang.
Kelemahannya adalah
betapa sulit mengakses
informasi yang tersimpan di
dalamnya. Persoalan “lupa” pada tahapan ini disebabkan oleh kesulitan atau
kegagalan memunculkan kembali (retrieval failure) informasi yang diperlukan.
Ini berarti, jika informasi ditata dengan baik maka akan memudahkan proses
penelusuran dan pemunculan kembali informasi jika diperlukan.
B.
Teori Pemrosesan Informasi dari Robert Gagne
Asumsi yang
mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat
penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari
pembelajaran. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan
informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk
hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara
kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi
internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil
belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi
eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam
proses pembelajaran.
Gagne membuat beberapa rumusan untuk
menghubungkan keterkaitan antara faktor internal dan eksternal dalam
pembelajaran dalam rangka memaksimalkan tercapainya tujuan pembelajaran, yaitu:
a. Pembelajaran yang dilakukan
dikondisikan untuk menimbulkan minat peserta didik, dan dikondisikan agar
perhatian peserta didik terpusat pada pembelajaran sehingga mereka siap untuk
menerima pelajaran.
b. Memulai pelajaran dengan
menyampaikan tujuan pembelajaran agar peserta didik mengetahui apa yang
diharapkan setelah menerima pelajaran.
c. Guru harus mengingatkan kembali
konsep yang telah dipelajari sebelumnya.
d. Guru siap untuk menyampaikan materi
pelajaran.
e. Dalam pembelajaran guru memberikan
bimbingan atau pedoman kepada siswa untuk belajar.
f.
Guru memberikan motivasi untuk
memunculkan respon siswa.
g. Guru memberikan umpan balik atau
penguatan atas respon yang diberikan siswa baik dalam bentuk lisan maupun
tulisan.
h. Mengevaluasi hasil belajar
i.
Memperkuat retensi dan transfer
belajar.
Model proses belajar yang dikembangkan oleh Gagne didasarkan
pada teori pemrosesan informasi, yaitu sebagai berikut:
a. Rangsangan yang diterima panca
indera akan disalurkan ke pusat syaraf dan dikenal sebagai informasi.
b. Informasi dipilih secara selektif,
ada yang dibunag, ada yang disimpan dalam memori jangka pendek, dan ada yang
disimpan dalam memori jangka panjang.
c. Memori-memori ini tercampur dengan
memori yang telah ada sebelumnya, dan dapat diungkap kembali setelah dilakukan
pengolahan.
C. Manfaat
teori pemrosesan informasi
1.
Membantu
terjadinya proses pembelajaran sehungga individu mampu beradaptasi pada
lingkungan yang selalu berubah
2.
Menjadikan
strategi pembelajaran dengan menggunakan cara berpikir yang berorientasi pada
proses lebih menonjol
3.
Kapasilitas
belajar dapat disajikan secara lengkap
4.
Prinsip
perbedaan individual terlayani.
D. Hambatan
teori pemrosesan informasi
1.
Tidak semua
individu mampu melatih memori secara maksimal
2.
Proses
internal yang tidak dapat diamati secara langsung
3.
Tingkat
kesulitan mengungkap kembali informasi-informsi yang telah disimpan dalam
ingatan
4.
Kemampuan
otak tiap individu tidak sama.